Lebaran Semakin Dekat, Pejuang Keluarga Menahan Haru di Tengah Ekonomi Sulit

    35
    0
    Ilustrasi - Seorang ibu dan ke-empat anaknya, berusaha tegar menahan haru menjelang lebaran tiba. Sumber Foto: Grafis Ilustrasi Cakrawala iNews/Ai.

    CakrawalaiNews.com, AMUNTAI – Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh kebahagiaan menjelang Hari Raya IdulFitrin1447 Hijriah, justru menjadi masa yang paling sulit bagi sebagian besar pejuang keluarga dengan segala keterbatasan.

    Di balik senyum mereka yang terlihat biasa, tersimpan perjuangan dan harapan yang tak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata.

    Di tengah Kota Amuntai, seorang ibu paruh baya tampak sibuk melayani pembeli kue basah yang ia jual di atas meja kecil. Tangannya cekatan membungkus dagangan, sementara sesekali ia menawarkan kepada orang yang lewat.

    Namun siapa sangka, di balik aktivitas sederhana itu ada perjuangan besar yang ia jalani setiap hari. Sebut saja IH (42), misalnya. Sejak subuh ia sudah bangun untuk menyiapkan berbagai kue tradisional yang kemudian dijual di pasar hingga sore hari.

    Hasilnya tidak menentu, kadang habis terjual, tetapi tak jarang juga masih tersisa.

    “Kalau ramai pembeli Alhamdulillah bisa cukup untuk kebutuhan rumah. Tapi kalau sepi, ya harus dihemat,” ujarnya Ahad (15/3/2026).

    IH menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu. Dengan penghasilan yang terbatas, ia harus mengatur kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan sehari-hari.

    Baca Juga:  Pengedar Sabu Diciduk di Tepi Jalan Amuntai, Polisi Amankan 27 Paket Narkotika Siap Edar

    Berita Menarik:  Diduga Oknum Kades di Balangan Akui Pria dalam Video Viral 7 Menit, Minta Maaf ke Publik

    Menjelang Lebaran, perasaan IH sering kali bercampur antara harapan dan kegelisahan.
    Ia menyadari anak-anaknya tentu ingin merasakan suasana Lebaran seperti keluarga lain, memakai pakaian baru, menikmati hidangan khas, dan berkumpul dengan penuh kebahagiaan.

    Namun kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

    “Kadang kalau anak-anak bicara soal baju Lebaran, saya cuma bilang nanti kita lihat rezekinya,” katanya sambil tersenyum tipis.

    Di malam hari, ketika rumah mulai sunyi dan anak-anaknya tertidur, IH mengaku ada kalanya ia meneteskan air mata. Bukan karena putus asa, melainkan karena ingin tetap kuat menghadapi keadaan.

    “Yang penting anak-anak sehat dan tetap bisa sekolah. Itu sudah cukup membuat saya bersyukur,” ucapnya.

    Kisah seperti IH bukanlah cerita tunggal. Banyak pekerja harian, pedagang kecil, hingga buruh informal yang harus bekerja lebih keras menjelang Lebaran.

    Di saat sebagian orang sibuk berbelanja dan mempersiapkan berbagai kebutuhan hari raya, mereka justru berjuang memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

    Meski demikian, semangat mereka tidak pernah benar-benar padam. Bagi para pejuang keluarga ini, Lebaran bukan tentang kemewahan atau pakaian baru.

    Lebaran adalah tentang kebersamaan, tentang bisa berkumpul dengan keluarga dalam keadaan sehat, meski dengan segala keterbatasan.

    Dan di balik senyum sederhana mereka, ada perjuangan yang sering tak terlihat, dimana harapan, keteguhan, dan kadang air mata yang jatuh tanpa suara.

    Editor: Sry