
CakrawalaiNews.com, AMUNTAI – Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menegaskan bahwa kerukunan masyarakat tetap terjaga berkat kuatnya nilai kearifan lokal yang telah lama menjadi fondasi kehidupan sosial di daerah.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) HSU, Amberani, mengatakan masyarakat HSU dikenal hidup berdampingan secara harmonis meski memiliki latar belakang yang beragam.
Hal itu tidak terlepas dari budaya gotong royong, nilai-nilai keagamaan, serta penghormatan terhadap perbedaan yang telah mengakar sejak lama.
“Selama ini masyarakat di HSU terbiasa hidup rukun. Perbedaan latar belakang tidak pernah menjadi masalah karena yang lebih diutamakan adalah kebersamaan sebagai sesama warga, terutama dalam hal, berbangsa, beragama” dan bernegara, ujarnya Selasa (10/3/2026).
Secara sosiologis, wilayah HSU dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan masyarakat Banjar, khususnya komunitas yang bermukim di kawasan rawa dan bantaran sungai.
Baca Juga: Isu Uang Palsu Beredar, Polres HSU Minta Pedagang Lebih Teliti Saat Terima Uang
Pola kehidupan yang berkembang di wilayah tersebut sejak dulu dibangun di atas semangat kebersamaan, solidaritas sosial, dan nilai-nilai kekeluargaan.
Dalam keseharian, masyarakat lebih banyak terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Terlebih pada momentum bulan Ramadan, berbagai kegiatan ibadah dan aksi kepedulian sosial menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan antar warga.
Namun di tengah pesatnya arus informasi digital, Kesbangpol HSU mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar, terutama yang beredar di media sosial.
Menurut Amberani, penyebaran informasi yang sangat cepat di era digital dapat memicu kesalahpahaman apabila tidak disikapi secara bijak.
“Karena itu masyarakat harus lebih selektif dalam menerima informasi. Jangan langsung percaya atau menyebarkan sesuatu sebelum memastikan kebenarannya,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa jika muncul persoalan di tengah masyarakat, penyelesaiannya sebaiknya ditempuh melalui dialog terbuka dan musyawarah yang melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan tradisi masyarakat HSU yang selama ini menjunjung tinggi nilai budaya saling menghormati, menjaga keharmonisan, serta menyelesaikan persoalan dengan cara kekeluargaan.
“Yang paling penting adalah menjaga persatuan. Perbedaan pandangan jangan sampai merusak kebersamaan yang sudah terbangun sejak lama,” tegasnya.
Dengan mengedepankan dialog, sikap saling menghargai, serta semangat kebangsaan, masyarakat HSU diharapkan mampu meredam potensi kesalahpahaman yang mungkin muncul dari berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Editor: Sry


