
CakrawalaiNews.com, AMUNTAI – Ancaman kecelakaan mengintai pengguna jalan di Jembatan Banua Lima, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).
Meski arus lalu lintas terpantau normal, kondisi gelap gulita akibat lampu penerangan yang tidak berfungsi maksimal memicu keresahan warga, khususnya di titik turunan jembatan menuju simpang empat Banua Lima dan perempatan lampu merah.
Jembatan yang menghubungkan Jalan H. Saberan Effendi, tepatnya dari arah Banjarmasin menuju Jalan Negara Dipa ini, merupakan jalur yang melintasi Sungai Nagara di Desa Palampitan Hilir, Kecamatan Amuntai Tengah menuju Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Setiap hari, ratusan kendaraan melintas, terutama menuju pusat kota dan kawasan Pasar Ikan Banua Lima yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Tokoh Agama dan Adat HSU Bersatu: Lawan Hoaks, Jaga Stabilitas, Kawal Program Pro-Rakyat
Fakta Lapangan: Lampu LED Menyala Redup, Tak Merata
Dari hasil pengamatan awak media, Ahad (29/3/2026)) dini hari, kondisi penerangan di sepanjang jembatan memprihatinkan. Terlihat sejumlah lampu hias LED yang melingkar di beberapa tiang lampu hanya menyala redup bahkan samar-samar, serta tidak merata di seluruh titik.
Situasi ini membuat sebagian ruas jembatan tetap berada dalam kondisi gelap, sehingga tidak memberikan penerangan optimal bagi pengendara, terutama pada malam hingga dini hari.
Titik Kritis: Turunan Gelap, Risiko Tinggi
Persoalan semakin serius di bagian turunan jembatan yang langsung mengarah ke simpang empat lampu merah. Dalam kondisi minim cahaya, jarak pandang pengendara menjadi sangat terbatas, sementara laju kendaraan dari atas jembatan cenderung tinggi.
“Kalau malam, itu benar-benar gelap. Lampu ada, tapi redup sekali, tidak membantu. Di turunan itu paling bahaya,” ungkap seorang warga yang akrab disapa Ory.
Warga menyebut kondisi ini sudah berlangsung sejak menjelang Ramadan dan belum ada penanganan. Bahkan, lokasi tersebut diketahui memiliki riwayat insiden, termasuk kendaraan yang diduga mengalami rem blong.
“Sudah sering hampir terjadi kecelakaan. Takutnya kalau dibiarkan, nanti benar-benar makan korban,” tambahnya.
Sebagai jalur strategis, kawasan Jembatan Banua Lima di jam sibuk, kerap mengalami perlambatan akibat aktivitas pengguna jalan, dan pertemuan arus di simpang empat, terutama pagi dan sore hari, terlebih momen libur hari besar, petugas bahkan harus melakukan penjagaan ketat untuk mengurai kemacetan, baik dari kepolisian maupun Dinas Perhubungan setempat.
Di tengah tingginya mobilitas tersebut, fasilitas penerangan justru tidak berfungsi optimal. Warga mendesak pemerintah daerah segera melakukan perbaikan total terhadap lampu penerangan di kawasan jembatan. Warga menilai kondisi ini sudah berangsur cukup lama dibiarkan.
“Jangan tunggu ada korban jiwa baru bergerak. Ini sudah jelas berbahaya, instansi terkait semestinya lebih peka, karena jalur tersebut juga merupakan jalur alternatif bagi para pejabat di lingkungan pemerintah daerah,” tegas salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Dengan kondisi lampu yang redup, tidak merata, serta titik rawan di turunan jembatan, kondisi Jembatan Banua Lima kini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan dan membutuhkan penanganan segera dari pihak berwenang.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada respon maupun tanggapan resmi dari pihak terkait.
Editor: Sry


