Beranda Kalsel Kab Balangan Dinkes Kerja Keras: Kasus HIV di Balangan Meningkat, Mayoritas Ditemukan pada Kelompok...

Dinkes Kerja Keras: Kasus HIV di Balangan Meningkat, Mayoritas Ditemukan pada Kelompok Usia Muda

165
0
Ilustrasi - Dinkes Balangan mengimbau, tanpa kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV lebih awal, upaya memutus mata rantai penularan di Kabupaten Balangan diperkirakan semakin sulit, sekaligus meningkatkan kualitas hidup bagi si penderita. Sumber Foto: Grafis Ilustrasi Cakrawala iNews/Ai.

CakrawalaiNesw.com, PARINGIN – Awal tahun, upaya pengendalian virus HIV di Kabupaten Balangan menghadapi tantangan serius di 2026.

Dinas Kesehatan setempat mencatat tren penemuan kasus baru yang terus meningkat, dengan sebagian besar pasien berasal dari kelompok populasi kunci dan didominasi usia muda.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan di sepanjang 2025, terdapat 13 orang menjalani pengobatan HIV secara intensif.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan pasien baru yang masih berada pada usia produktif.

Fenomena yang paling menonjol adalah tingginya jumlah kasus pada kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL). Kelompok ini menyumbang lebih dari 50 persen kasus HIV yang ditemukan sepanjang 2025.

Yang memprihatinkan, tercatat tujuh pemuda yang belum menikah terkonfirmasi positif HIV akibat perilaku seksual berisiko.

Secara kumulatif, kelompok LSL juga menjadi penyumbang terbesar dalam peta penyebaran HIV di Kabupaten Balangan. Dari total 62 kasus HIV yang pernah tercatat, sebanyak 31 kasus berasal dari kelompok tersebut.

Baca Juga:  Kebakaran di Halong Balangan Hanguskan Rumah Warga, Satu KK Kehilangan Tempat Tinggal

Supervisor Program HIV Dinas Kesehatan Balangan, Graha Eka Satria, menjelaskan bahwa meningkatnya penemuan kasus juga menunjukkan masih lemahnya deteksi dini di masyarakat.

Banyak pasien baru diketahui terinfeksi setelah kondisi kesehatannya sudah menurun.

“Kebanyakan pasien baru terdeteksi ketika sudah memasuki fase AIDS. Padahal infeksinya sudah berlangsung lama di dalam tubuh,” ujar Graha baru-baru ini.

Menurutnya, salah satu kendala terbesar dalam penanggulangan HIV adalah sulitnya menjangkau komunitas berisiko yang cenderung tertutup.

Dimana faktor stigma sosial serta minimnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara sukarela membuat proses skrining sering terhambat.

Petugas kesehatan juga kerap mengalami kesulitan membangun komunikasi dengan kelompok tersebut karena sensitivitas terhadap pihak luar.

Akibatnya, banyak individu yang menolak melakukan tes sebelum mengalami gejala kesehatan yang serius.

“Kebanyakan mereka baru bersedia diperiksa ketika sudah merasa sakit. Padahal deteksi lebih awal sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih berat,” jelas Graha.

Hingga kini, capaian penemuan orang dengan HIV (ODHIV) di Balangan baru mencapai 56 orang, atau sekitar 43 persen dari target nasional sebanyak 130 orang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat penyebaran virus mulai menyasar kelompok usia produktif.

Dinas Kesehatan Balangan menilai, pemeriksaan kesehatan secara dini menjadi kunci penting untuk menekan angka penularan sekaligus meningkatkan kualitas hidup bagi penderita.

Tanpa kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV lebih awal, upaya memutus rantai penularan di Kabupaten Balangan diperkirakan akan semakin sulit.

Editor: Sry