Beranda Kalsel Kab Hulu Sungai Utara Spekulasi Warganet Lebih Cepat dari Hasil Lab, Dugaan Keracunan Es Buah di...

Spekulasi Warganet Lebih Cepat dari Hasil Lab, Dugaan Keracunan Es Buah di HSU Jadi Perbincangan Hangat

126
0
Ilustrasi - Usai menyantap es buah di sebuah hajatan, ratusan warga diduga mengalami keracunan massal, dari anak-anak, orang dewasa, hingga ibu hamil, sementara pihak kepolisian dan BPOM masih melakukan penyelidikan atas sampel yang sudah diamankan. Sumber Foto: Ilustrasi Grafis Cakrawala iNews/Ai.

CakrawalaiNews.com, AMUNTAI – Dugaan keracunan massal yang terjadi dalam sebuah hajatan di Desa Baruh Tabing, Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tak hanya menggegerkan warga setempat, tetapi juga memicu gelombang spekulasi liar di media sosial, Ahad (1/2/2026)

Sebelum pihak berwenang mengumumkan hasil pemeriksaan resmi berbasis uji laboratorium, warganet justru lebih dahulu “menarik kesimpulan”.

Salah satu dugaan yang ramai diperbincangkan di berbagai platform digital menyebutkan bahwa penyebab keracunan diduga berasal dari Furadan, pestisida berbentuk butiran yang sekilas menyerupai biji selasih, bahan umum dalam minuman es buah.

Padahal, hingga kini, belum ada satu pun hasil uji laboratorium yang menyatakan kebenaran dugaan tersebut.

Berita Terkait: https://cakrawalainews.com/2026/02/diduga-keracunan-massal-ratusan-warga-bruh-tabing-hsu-dilarikan-ke-rs-usai-konsumsi-es-buah-hajatan/

153 Orang Terdampak, Anak-Anak Ikut Jadi Korban

Peristiwa ini menyebabkan 153 warga, termasuk anak-anak, harus dilarikan ke puskesmas setempat. Kapolsek Banjang, AKP Robby, membenarkan kejadian tersebut.

“Dari 153 orang yang sempat dirawat, 145 sudah diperbolehkan pulang, sementara delapan orang masih menjalani perawatan intensif,” ujar Robby.

Diketahui 8 korban yang masih dirawat terdiri dari 4 orang dewasa dan 4 anak-anak. Mereka mengalami gejala seperti lidah terasa pahit, pusing berputar, mual, hingga muntah.

Korban dengan kondisi lebih serius kemudian dirujuk ke RS Pambalah Batung Amuntai untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Indikasi Kuat Mengarah ke Es Buah

Berdasarkan hasil skrining awal, pihak kepolisian menyebutkan bahwa seluruh korban mengaku mengonsumsi es buah yang disajikan dalam hajatan tersebut, dengan komposisi berisi pepaya, labu putih, nanas, selasih, dan sirup leci.

“Untuk sampel makanan dan minuman sudah kami amankan dan akan diperiksa lebih lanjut,” kata Robby.

Senada, Kepala BPOM Wilayah Tabalong, Taufiq, menyampaikan bahwa indikasi awal keracunan paling kuat mengarah pada es buah, bukan menu lainnya seperti sop atau soto.

“Semua korban mengonsumsi es buah dan gejalanya muncul sangat cepat, kurang dari 30 menit setelah dikonsumsi,” jelasnya.

Air PDAM Dijadikan Es Tanpa Dimasak

Dari hasil skrining lapangan, BPOM menemukan fakta penting lainnya. Es batu yang digunakan dalam es buah tersebut diketahui berasal dari air PDAM yang langsung dibekukan tanpa proses direbus terlebih dahulu.

“Ini menjadi catatan penting. Air yang tidak dimasak berpotensi mengandung bakteri berbahaya,” ujar Taufiq.

Saat ini, BPOM masih melakukan uji laboratorium lanjutan terhadap sampel makanan dan minuman di Lab BPOM Tabalong dan Banjarbaru untuk memastikan jenis bakteri atau kontaminan yang menyebabkan keracunan.

Edukasi Keamanan Pangan Jadi Sorotan

Taufiq menegaskan, kasus ini harus menjadi pelajaran bersama. Ia mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan air mentah untuk konsumsi langsung, termasuk dalam pembuatan es batu.

“Air sebaiknya dimasak terlebih dahulu untuk memastikan keamanannya,” katanya.

BPOM, lanjut Taufiq, akan merekomendasikan hasil uji laboratorium kepada pemerintah daerah dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan guna meningkatkan edukasi keamanan pangan di tengah masyarakat.

Bukan Kejadian Pertama

Kapolsek Banjang juga mengungkapkan bahwa kasus serupa bukan kali pertama terjadi di HSU. Setidaknya, sudah dua kali kejadian keracunan menu hajatan tercatat sebelumnya.

Di tengah proses investigasi yang masih berjalan, derasnya spekulasi warganet justru menjadi tantangan tersendiri. Informasi yang belum terverifikasi kerap lebih cepat menyebar dibandingkan fakta berbasis uji ilmiah.

Hingga hasil resmi diumumkan, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi berlebihan dan menunggu keterangan resmi dari instansi terkait.

Salah satu foto unggahan dari Warganet, menyebut penyebab terjadinya keracunan massal bersumber dari Furadan, yang dilihat sekilas menyerupai biji selasih. Sumber Foto: Unggahan Warganet di FB.

Furadan dan Biji Selasih

Furadan (terutama jenis 3GR) adalah insektisida dan nematisida sistemik berbentuk butiran (granul) berwarna ungu yang digunakan untuk membasmi hama di dalam tanah dan akar, seperti uret, nematoda bintil akar, cacing, penggerek batang, dan kutu tanah.

Produk ini diaplikasikan dengan cara ditabur di sekitar tanaman pada padi, hortikultura (cabai, tomat, kentang), dan tanaman perkebunan.

Biji selasih (Ocimum basilicum) umumnya digunakan sebagai campuran minuman segar (es buah, sirup) karena teksturnya yang kenyal setelah direndam air.

Secara kesehatan, selasih kaya serat, antioksidan (flavonoid), dan mineral (kalsium, magnesium, zat besi) yang bermanfaat untuk melancarkan pencernaan, menurunkan berat badan, meredakan panas dalam, serta menjaga kesehatan tulang.

Editor: Sry