
CakrawalaiNews.com, AMUNTAI – Hujan belum sepenuhnya reda ketika puluhan anggota Satgas TMMD ke-127 akhirnya berhenti sejenak dari pekerjaan mereka di Desa Hambuku Hulu, Kecamatan Sungai Pandan, Rabu (18/2/2026).
Seragam loreng yang basah oleh hujan tak menghalangi senyum yang merekah saat mereka bersama warga menyantap lauk seadanya. Di sela perjuangan membangun desa, terselip momen sederhana namun penuh makna di momen makan bersama.
Tak ada jamuan mewah, hanya nasi hangat, lauk seadanya, dan segelas air yang terasa begitu nikmat setelah seharian mengangkat material, menggali tanah, dan merapikan bangunan. Namun justru dalam kesederhanaan itu, kehangatan terasa begitu kuat.
Suasana cair dan tawa anak-anak terdengar di sudut halaman, para ibu berbincang ringan, sementara prajurit dan warga saling bertukar cerita tentang keluarga dan kehidupan sehari-hari.
Sekat antara aparat dan masyarakat seakan luruh, berganti menjadi rasa persaudaraan.
Program TMMD ke-127 di Desa Hambuku Hulu bukan sekadar menghadirkan pembangunan fisik. Lebih dari itu, ia menumbuhkan kembali semangat gotong royong yang menjadi napas desa.
Prajurit TNI tak hanya bekerja membangun jalan dan fasilitas, tetapi juga membangun kedekatan hati. Salah satu warga mengaku terharu melihat para prajurit yang tetap rendah hati.
“Mereka tidak hanya bekerja keras, tapi juga mau duduk dan makan bersama kami. Rasanya seperti keluarga sendiri,” ungkap Rahmadi warga setempat, kepada awak media.
Bagi para anggota Satgas, momen makan bersama itu adalah energi baru. Di situlah lelah terbayar, semangat diperbarui. Kebersamaan menjadi kekuatan yang tak terlihat, namun nyata terasa.
Ketika waktu istirahat usai, mereka kembali berdiri. Palu kembali digenggam, dengan langkah terasa lebih ringan, karena di balik setiap ayunan tenaga, ada kehangatan yang mengikat kebersamaan.
Di Hambuku Hulu, TMMD bukan hanya tentang pembangunan desa. Ia adalah tentang sepiring nasi yang menyatukan hati, tentang perjuangan yang dijalani bersama, dan tentang persaudaraan yang tumbuh di antara keringat dan harapan.
Editor: Sry


