
CakrawalaiNews.com, AMUNTAI – Ramadan seharusnya menjadi bulan menundukkan ego. Tapi yang terjadi di sejumlah kampung hari ini justru sebaliknya: ego dipertontonkan di atas mobil bak terbuka, dengan sound system menggelegar, dentuman DJ memecah dini hari, dan goyangan yang lebih mirip pesta jalanan daripada panggilan ibadah.
Ini bukan lagi soal kreativitas. Ini soal hilangnya rasa malu. Dulu, orang membangunkan sahur dengan pentungan bambu. Suaranya sederhana, tapi sarat makna. Ada ketukan yang pelan, ada salam, ada doa. Anak-anak muda berkeliling dengan adab, bukan dengan ambisi viral.
Niat baik tidak otomatis membenarkan cara
membantu orang bangun sahur adalah perbuatan baik. Tapi kebaikan tanpa adab bisa berubah menjadi keburukan sosial.
Baca Juga : Polres Balangan Amankan Motor Balap Liar Hingga Sound DJ saat Patroli Ramadan di Paringin
Bagaimana mungkin kita mengajak orang bangun untuk ibadah, sementara cara kita justru mengganggu orang sakit, membuat bayi terbangun ketakutan, dan memicu keresahan warga?
Adab dalam tradisi kita bukan sekadar pelengkap. Ia adalah fondasi. Tanpa adab, niat hanya menjadi tameng pembenaran.
“Yang penting kan niatnya baik.” Kalimat ini terlalu sering dipakai untuk menutup kritik. Padahal, dalam nilai keislaman maupun budaya timur, cara sama pentingnya dengan tujuan.
Generasi Salah Arah atau Orang Dewasa yang Abai?
Mudah menyalahkan anak muda. Tapi mari jujur: di mana peran orang tua? Di mana tokoh masyarakat? Di mana pembinaan?
Energi anak muda itu besar. Tapi energi tanpa arah bisa berubah menjadi ledakan tanpa makna. Ramadhan yang seharusnya menjadi madrasah pengendalian diri justru dipakai sebagai ajang pembuktian eksistensi.
Bukan lagi soal membangunkan sahur. Ini soal ingin dilihat. Ingin direkam. Ingin viral.
Ironisnya, sebagian orang dewasa justru menonton, tertawa, bahkan membiarkan.
Normalisasi yang Mengkhawatirkan
Yang lebih berbahaya dari dentuman DJ dini hari adalah normalisasi perilaku ini. Ketika pesta jalanan dibungkus dengan label “tradisi sahur”, ketika joget tak terkendali dianggap “kreativitas”, ketika kebisingan disebut “syiar”, maka kita sedang menyaksikan pergeseran nilai yang serius.
Hari ini mungkin hanya soal sahur.
Besok bisa jadi soal lain yang lebih besar.
Jika batas adab terus digeser, generasi berikutnya akan menganggap kebisingan sebagai kewajaran, dan ketenangan sebagai sesuatu yang aneh.
Tamparan untuk Kita Semua
Editorial ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyadarkan. Ramadan bukan festival, bukan ajang unjuk sound system, juga bukan panggung DJ keliling kampung.
Ramadan adalah latihan menahan diri.
Jika di bulan yang paling suci saja kita gagal menjaga adab, lalu kapan lagi?
Tradisi boleh berkembang. Teknologi boleh digunakan. Anak muda boleh berkreasi. Tapi selama adab ditinggalkan, semua itu hanya akan menjadi potret memprihatinkan dari generasi yang kehilangan arah, dan masyarakat yang memilih diam.
Dan diam, dalam banyak kasus, adalah bentuk persetujuan paling tersembunyi.
Editor: Tim Redaksi


