Beranda Bedah Editorial Perceraian: Dari Aib Sosial ke Simbol “Kebebasan” di Era Digital

Perceraian: Dari Aib Sosial ke Simbol “Kebebasan” di Era Digital

43
0
Ilustrasi - Zaman telah berubah, dulu perceraian merupakan sebuah aib atau kegagalan dalam berumah tangga, sekarang akta cerai tak jarang diperlakukan seperti sertifikat kelulusan, dipamerkan, dirayakan, diberi narasi kemenangan. Sumber Foto: Ilustrasi Grafis Cakrawala iNews/Ai

CakrawalaiNews.com – Di masa lalu, perceraian adalah luka sosial. Ia tidak hanya memisahkan dua individu, tetapi juga mengguncang kehormatan keluarga besar.

Orang tua merasa gagal mendidik, anak-anak menanggung stigma, dan terutama perempuan harus menelan pengucilan yang panjang. Perceraian kala itu adalah aib, diam-diam ditutupi, dibicarakan berbisik, dan dihindari sebisa mungkin.

Namun zaman bergerak cepat. Nilai sosial berubah, struktur ekonomi bergeser, dan media sosial mengubah cara manusia memaknai hidupnya sendiri.

Hari ini, perceraian tak lagi selalu dibalut duka. Ia bahkan kerap dipresentasikan sebagai tanda kebebasan, bukti keberanian, atau langkah menuju kebahagiaan baru.

Di linimasa media sosial, akta cerai tak jarang diperlakukan seperti sertifikat kelulusan: dipamerkan, dirayakan, diberi narasi kemenangan.

Terutama bagi sebagian perempuan, perceraian diposisikan sebagai simbol lepas dari penindasan, relasi toksik, atau ketidakadilan rumah tangga.

Narasi ini, pada satu sisi, adalah bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki lama yang menindas dan membungkam. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan penting, apakah perceraian kini benar-benar dipahami sebagai keputusan terakhir yang matang, atau justru menjadi pilihan instan yang terlalu dimudahkan oleh sistem dan budaya populer?

Kemudahan akses hukum, kemandirian ekonomi, dan dukungan sosial memang memberi ruang bagi individu, terutama perempuan, untuk tidak lagi terjebak dalam pernikahan yang merusak martabat dan keselamatan.

Ini adalah kemajuan yang patut dihargai. Tidak semua pernikahan layak dipertahankan, dan tidak semua perceraian adalah kegagalan moral. Yang menjadi korban adalah mereka yang sudah memiliki keturunan.

Tetapi ketika perceraian direduksi menjadi sekadar konten, status, atau narasi personal branding, kita berisiko kehilangan dimensi tanggung jawab sosial dan emosional di dalamnya.

Perceraian tetaplah peristiwa besar, ada anak-anak yang terdampak, ada luka psikologis yang tak selalu terlihat, ada relasi sosial yang retak meski tak lagi dibicarakan.

Realitas zaman sekarang menuntut keseimbangan baru. Antara hak individu untuk bahagia dan kedewasaan dalam mengambil keputusan hidup. Antara melawan stigma lama yang menindas, tanpa jatuh pada glorifikasi berlebihan yang menafikan konsekuensi.

Perceraian bukan lagi aib seperti dulu, dan memang tidak seharusnya. Tetapi ia juga bukan prestasi. Ia adalah jalan darurat, bukan tujuan.

Dalam masyarakat yang sehat, perceraian diperlakukan dengan empati, kehati-hatian, dan kedewasaan, bukan penghakiman, namun juga bukan euforia.

Zaman berubah. Nilai bergeser. Namun satu hal tetap yakni keluarga, dalam bentuk apa pun, masih membutuhkan tanggung jawab, kesadaran, dan kemanusiaan.

Oleh: Redaksi Cakrawala iNews