Beranda Kalsel Kab Hulu Sungai Utara Dibalik Seragam Orange: Potret Petugas Kebersihan HSU Bertaruh Sehat Demi Kota Layak...

Dibalik Seragam Orange: Potret Petugas Kebersihan HSU Bertaruh Sehat Demi Kota Layak Huni

63
0
Ilustrasi - Sejumlah petugas kebersihan, saat membersihkan tumpukan sampah dalam mewujudkan kebersihan lingkungan. Sumber Foto: Ai

CakrawalaiNews.com, AMUNTAI — Setiap pagi, hingga siang, saat sebagian warga Hulu Sungai Utara (HSU) masih terlelap, deru kendaraan pengangkut sampah sudah lebih dulu memecah sunyi.

Di balik kemudi, di atas bak truk, berdiri para pejuang kebersihan, petugas yang setiap hari memungut sisa-sisa kehidupan rumah tangga, dari sisa makanan hingga limbah yang tak jarang berbau menyengat.

Mereka bekerja dalam kondisi yang jauh dari kata aman. Tanpa perlindungan maksimal, para petugas ini harus bersentuhan langsung dengan sampah yang berpotensi membawa berbagai penyakit, mulai dari infeksi kulit, gangguan pernapasan, hingga risiko tertular bakteri dan virus berbahaya.

Ironisnya, di tengah kerja keras mereka, kesadaran sebagian warga terhadap pengelolaan sampah masih memprihatinkan. Banyak sampah rumah tangga dibuang tanpa dibungkus dengan benar, tercecer, bocor, bahkan bercampur antara limbah basah dan kering.

Situasi ini bukan hanya menyulitkan proses pengangkutan, tetapi juga memperbesar ancaman kesehatan bagi para petugas kebersihan.

“Kadang kami temukan sampah langsung dimasukkan ke bak tanpa plastik. Kalau hujan, baunya makin menyengat, air lindi mengalir ke mana-mana,” ujar salah satu petugas kebersihan di Amuntai yang enggan disebutkan namanya.

Baginya dan rekan-rekannya, setiap hari bekerja adalah soal ketahanan fisik sekaligus mental.
Di sisi lain, peran mereka sering luput dari perhatian publik.

Padahal, tanpa kehadiran para petugas kebersihan, wajah kota akan cepat berubah menjadi lautan limbah yang mengancam kesehatan bersama. Mereka bukan sekadar pengangkut sampah, tetapi mereka adalah garda terdepan dalam menjaga lingkungan tetap layak huni.

Seorang mahasiswa di HSU, yang enggan disebutkan namanya menilai, persoalan ini bukan semata-mata soal teknis pengelolaan sampah, tetapi juga menyangkut budaya disiplin masyarakat.

“Kesadaran membungkus sampah dengan benar, memilah antara organik dan anorganik, serta membuang sesuai jadwal adalah bentuk penghormatan paling sederhana kepada petugas kebersihan,” ujarnya.

Menurutnya, sudah saatnya para pejuang kebersihan mendapat tempat terhormat dalam narasi pembangunan daerah. Bukan hanya lewat pujian seremonial, tetapi juga melalui perlindungan kesehatan yang memadai, perlengkapan kerja yang layak, serta dukungan masyarakat yang nyata.

“Setidaknya pemerintah daerah bisa memberikan penghargaan terhadap mereka, meski mereka digaji, dibalik sampah ancaman penyakit dan virus selalu ada, sudah saatnya mereka mendapatkan penghargaan dari pemerintah daerah, mengingat pekerjaan ini tidak semua orang mau,” ungkapnya.

Di balik setiap jalan yang bersih dan sudut kota yang rapi, ada tangan-tangan yang setiap hari bertaruh dengan risiko, demi memastikan HSU tetap menjadi rumah yang sehat bagi kita semua.

Editor: Sry