
CakrawalaiNews.com, AMUNTAI – Banjir tahunan kembali merendam Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan. Seperti siklus yang berulang setiap tahun, luapan air kembali disertai dengan penyaluran bantuan sembako kepada warga terdampak.
Bagi sebagian masyarakat, banjir seolah telah menjadi rutinitas yang diterima, sementara solusi jangka panjang masih terus dinantikan.
Luapan Sungai Kali Nagara menjadi salah satu penyebab utama terendamnya permukiman warga.
Sungai ini dinilai tak lagi mampu menampung debit air kiriman dari wilayah hulu, khususnya Kabupaten Tabalong dan Balangan. Saat curah hujan tinggi terjadi secara bersamaan, air meluber ke kawasan pemukiman, melumpuhkan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga.
Diketahui pemerintah daerah melakukan berbagai upaya mitigasi, termasuk pengerukan di sejumlah aliran sungai. Namun hingga kini, langkah tersebut belum mampu menahan besarnya debit air yang datang.
Banjir masih menjadi persoalan berulang yang dihadapi masyarakat HSU setiap musim hujan.
Di tengah genangan, bantuan sembako kembali disalurkan. Meski dirasakan membantu untuk kebutuhan darurat, tidak semua warga terdampak memperoleh bantuan secara merata.
Warga juga menilai, bantuan tersebut belum menyentuh dampak ekonomi yang mereka rasakan selama banjir berlangsung.
“Banjir memang terjadi di mana-mana di Kalimantan Selatan, tapi kami berharap di HSU ini ada solusi agar banjir bisa benar-benar diatasi,” ujar seorang warga Amuntai yang enggan disebutkan namanya, Ahad (4/1/2026).
Warga menilai, bahwasanya nilai bantuan sembako tidak sebanding dengan kerugian ekonomi yang dialami masyarakat.
“Kalau dinilai dari uang, sembako itu sebenarnya tidak seberapa. Mata pencaharian kami lumpuh selama banjir,” katanya.
Ia menuturkan, sebelum banjir dirinya bisa memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp 50 ribu per hari. Namun selama banjir, aktivitas usaha terhenti total.
“Kalau seminggu tidak bisa bekerja, kerugiannya sudah ratusan ribu. Bantuan hanya datang sekali selama banjir terjadi, ya jelas kerugian ditanggung masing-masing,” ujar warga yang berdagang di pasar unggas Amuntai.
Selain berharap adanya solusi teknis, warga juga menyampaikan harapan pada pola kepemimpinan saat ini. Dimana salah satu warga Amuntai juga berharap agar pemimpin dapat lebih sering turun langsung ke lapangan, membangun komunikasi dengan masyarakat secara terbuka.
“Kalau bisa, pemimpin kita seperti Gubernur Jawa Barat, sering turun langsung menemui warga, mendengar keluhan masyarakat tanpa sekat,” ujarnya.
Menurutnya, kedekatan antara pemimpin dan masyarakat sangat penting agar solusi yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.
“Dengan sering bertemu dan berdialog langsung, kedekatan itu bisa menyatu dari hati ke hati, dan kami sangat mengharapkan hal itu. tambahnya.
Di Hulu Sungai Utara, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman. Ia telah menjadi rutinitas yang diterima masyarakat. Sembako datang, air surut, lalu banjir kembali.
Sementara warga terus menunggu, bukan hanya bantuan saat bencana, tetapi kehadiran nyata dan solusi yang mampu memutus siklus banjir tahunan.
Editor: Sry


